Covid 19, obat dari segala macam penyakit. Malaria, kanker, asma, semuanya hilang!

 
Apa yang anda pikirkan jika mendengar kata Corona Virus Disease 19 (Covid 19)? Sebagian orang mungkin ketakutan sampai lari terbirit-birit. Sebagian ada yang jantungnya berdebar 500x/menit. Sebagian ada yang tercirit dicelana. Dan sebagian ada yang lari lalu bersembunyi dibawah tumpukan masker. Bahkan entah benar entah tidak, teman saya mengatakan ada orang yang meminum hand sanitizer sebanyak 250ml dengan alasan agar tubuhnya protektif terhadap covid 19. Tentu saja dia dilarikan kerumah sakit, sesaat dia siuman, saya tanya lagi kebenaran alasan yang mengocok perut itu. Usut punya usut, ternyata dia meminum hand sanitizer untuk mabuk-mabukan. Lucu? Pastinya. Tapi lebih dari itu, dia cerdas. Ya, silahkan tafsirkan sendiri diksi “Cerdas” tsb.

Kembali ke tema, ya covid 19. Saya sebenernya pingin tertawa mendengar nama virus tsb. Mengapa tidak? Ada kasus tetangga saya yang asmanya kumat, dan saat dibawa kerumah sakit dia meninggal, tidak lama, saya dapat kabar, almarhum positif covid. Padahal saya tau sendiri, beliau uda hampir mati 3kali akibat asmanya. Namun selalu selamat karna mendapat pelayanan kesehatan dengan cepat dan tanggap. Saya ga bilang saat terakhir almarhum dibawah ke rumah sakit tidak mendapatkan pertolongan medis yang bagus. Tapi saya bersepekulasi, ingat yah, ini spekulasi, almarhum tidak mendapatkan pertolongan gawat darurat karna harus melewatkan pemeriksaan covid, atau rapid test. Ya kita tahu sama tahu, semua pasien yang sakit harus dirapid test dulu, dan karna hal itu, mengakibatkan orang yang membutuhkan pertolongan segera, akhirnya tidak tertolong. Baru saja saya berita, ada seorang ibu hamil yang harus kehilangan bayinya karna tidak mendapatkan pertolongan segera, karna harus rapid test dulu. Saya mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya buat keluarga dari janin yang meninggal tsb. Semoga si janin itu menjadi penyelamat kedua orang tua nya dari jilatan api neraka. Aamiin

Kanker, bukan kantong kering yah, tapi penyakit yang mematikan itu. Perlu digaris bawahi, kanker adalah salah satu penyakit paling mematikan di indonesia, sedangkan flu, di indonesia cuma bahan lawakan, kasih saja teh manis jahe anget, dah sembuh nya itu. Begitu emak-emak disini mengatakannya. Tapi di eropa, flu merupakan penyakit paling mematikan di eropa khususnya. Disini kita sudah dapatkan pembandingnya toh?. Yasudah, sisanya silahkan kamu analisis sendiri. Saya gamau berurusan dengan polisi dsb. Karna saya masih kuliah dan menginjak semester 5. Saya mau selesaikan kuliah dulu. Hahaha

Jika kamu tanya, bagaimana tanggapan saya mengenai covid ini, saya akan jawab kalau saya bahagia dengan kedatangannya, kenapa? Pertama, semenjak covid datang, kegiatan industri dan mesin kendaraan berkurang, artinya bumi bisa menyegarkan dirinya kembali. Kedua, manusia mulai belajar hidup dengan bersih. Ketiga, semua penyakit hilang. Iya, semua penyakit hilang. Jarang kan kamu dengar lagi orang meninggal karna dbd? Malaria, bahkan diabetes. Setiap nyawa yang hilang, disebut akibat terpapar covid 19. Sungguh mencengangkan covid ini, semua penyakit bisa hilang dibuatnya. Apa kamu ga bangga? Saya sih yes!!!

Kemarin saya diskusi sama temen di salah satu cafe di kota medan, semua kami bahas, mulai hukum, politik, sains, sampai ke covid. Kebetulan saya adalah orang yang kurang percaya terhadap tingkat ke-ngerian covid seperti yang dibicarakan dimana-mana. Sedangkan temen saya itu, terlalu parno dengan covid. Perdebatan kami lancarkan dalam waktu kurang lebih 1 jam. Serang demi serangan yang saling berbalas terlontar, hingga teman saya menanyakan, ” Emang kamu gatau apa? Banyak dokter yang sudah mati akibat terpapar covid 19? Sudah ribuan nyawa hilang karna covid ini. Ga punya hati kamu”. Kebetulan temen saya ini perempuan, jadi saya jawab dengan penuh kelembutan. “Begini adinda ku, masalah ribuan nyawa yang sudah melayang. Bukankah setiap tahun memang ada ribuan orang yang meninggal? Sebelum ada covid, ribuan orang meninggal karna dbd, diabetes, kanker dll. Mengenai dokter yang meninggal. Begini dinda, aku memang dulu anak ips, tapi aku sempat belajar ipa juga dulu. Setau aku, kita bernafas menghirup O2, dan membuang (Ekskresi) Co2. Nah, sekarang kamu bayangin, kamu dibungkus baju kedap udara, lalu pakai masker di double-double dalam kurun waktu 4-8 jam, kamu hirup Co2, kamu buang lagi, terus kamu hirup lagi, begitu terus selama berjam-jam. Bayangin apa yang akan terjadi?” begitulah saya jawab pertanyaannya sembari menatap tajam kedua bola matanya dan membelai rambut nya. Ya begitulah, saya memang orang yang sangat perduli dengan perempuan. Saya paling gabisa liat perempuan sedih.

Nah, saya mau tanya kepada pembaca, apa tanggapan kalian mengenai covid 19 ini? Apakah terkencing-kencing ketika mendengarnya? Atau apa? Coba mari kita sharing di kolom komentar. Dan jangan lupa berbagi bacaan nyeleneh tapi membuka wawasan ini kepada yang lainnya.
Yang paling penting, jangan panggil polisi. Males saya berurusan sama mereka untuk saat ini.
 

Penulis : 
Maulana hamas
Mahasiswa semester 5 fakultas hukum USU.

Ingin mengekspresikan diri dan berpotensi mendapatkan penghasilan?
Yuk jadi penulis di rakyat filsafat. Setiap bulannya akan ada 3 orang beruntung yang akan mendapatkan Hadiah dari Rakyat Filsafat!

Ingin memiliki portal berita yang responsif, dinamis serta design bagus? atau ingin memiliki website untuk pribadi/perusahaan/organisasi dll dengan harga bersahabat dan kualitas dijamin dengan garansi? hubungi kami disini!

Saran Kami

Mungkin anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Anak Desa
Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Sop Jawa Sumatera

Tertarik Mulai Menulis di RAKYAT FILSAFAT?

Ada pertanyaan? Hubungi kami di rakyatfilsafat@gmail.com