Hari ini aku memahami satu hal yang sederhana, tapi sering luput disadari: tidak semua orang mencintai dengan cara yang sama.
Ada yang mencintai dengan kehadiran dan selalu ada, selalu mencoba dekat. Ada yang mencintai dengan jarak dan memberi ruang, tapi tetap diam-diam menjaga. Ada yang mencintai dengan kata-kata, meyakinkan lewat ucapan. Ada pula yang lebih banyak diam, tapi tindakannya berbicara lebih keras dari apa pun.
Dulu aku sempat berpikir, cara mencintaiku adalah cara yang “benar”. Bahwa perhatian harus dibalas perhatian, bahwa usaha harus setara, bahwa rasa harus terlihat jelas. Tapi semakin aku mengenal manusia, semakin aku paham, cinta tidak pernah sesederhana itu.
Setiap orang membawa sejarahnya masing-masing. Ada yang tumbuh dari hangatnya pelukan, ada yang besar dalam kekurangan perhatian. Ada yang pernah dikecewakan, sehingga mencintai dengan hati-hati. Ada yang pernah kehilangan, sehingga mencintai dengan penuh kecemasan.
Dan tanpa sadar, semua itu terbawa dalam cara mereka mencintai hari ini.
Mungkin itulah sebabnya, dua orang bisa sama-sama tulus, tapi tetap saling melukai. Bukan karena tidak ada cinta, tapi karena mereka berbicara dalam “bahasa” yang berbeda.
Hari ini aku belajar untuk tidak buru-buru menilai. Tidak semua yang terlihat dingin berarti tidak peduli. Tidak semua yang terlihat dekat berarti benar-benar tinggal.
Cinta, pada akhirnya, bukan hanya tentang seberapa besar rasa yang kita punya. Tapi juga tentang seberapa jauh kita mau memahami, bahwa cara orang lain mencintai, bisa jadi berbeda, namun tetap nyata.
Mungkin, di situlah kedewasaan itu tumbuh: saat kita tidak lagi memaksakan cara, tapi mulai belajar menerjemahkan rasa.











