menjadi motivatornya yaitu ketika Frederick II seorang Raja Prusia yang mendukung pada pemikir bebas meninggal dunia terjadi reduksi kata filsafat pencerahan di Jerman. Di bawah pengaruh Perdana Menteri John Kristov Voltaire (1722-1800) maka raja baru Frederck William II mengambil tindakan-tindakan represif untuk mempertahankan orthodoksi agama sejak serangan-serangan
pencerahan (aufklarung) terhadapnya melalui tangan Lessing.
tidak pernah bergeming darinya.
Argumentasi tentang persoalan tersebut sebagaimana dinyatakan Conofischer tidak akan merujuk kepada kelemahan daya potensial Kant karena usia tuanya tetapi kepaa lokalitas-lokalitas di mana karya- karya itu ditulis di dalamnya.
Sebagian tokoh, seperti penyair Heine, berspekulasi bahwa karya politik Kant adalah Nalar Murni sedangkan karya-karya lainnya semata-mata tambahan yang direlasikan kepadanya. Ia mengidentifikasi buku Kritik Nalar Praksis sebagai lelucon semata.
Ini pasti tidak benar karena filsafat Kant secara fundamental adalah filsafat kehendak dan kebebasan dan buku Kritik Nalar Murni hanya merupakan introduksi bagi perluasan ruang buku keduanya yaitu
Kritik Nalar Praksis sebagaimana yang dinyatakan Kant sendiri dalam introduksi cetakan kedua buku Kritik Nalar Murni: “adalah niscaya bagi dekonstruksi pengetahuan untuk perluasan ruang bagi
keimanan”.
semata-mata sarana (wasilah, medium artifisial), bukan tujuan (ghayah), dan bukan merupakan medium artificial bagi postulasi dan pembatalan kebenaran tetapi untuk menetapkan otonomi esensial- internal pengetahuan dan moral bagi nalar dan kehendak dalam persepsi dan praksis. Ini tidak akan menghalangi eksistensi dua filsafat yang saling kontradiksi bagi Kant: rasionalisme (sebagaimana halnya dalam kategori-kategori dari satu sisi), dan hukum moral dan pertarungan keinginan dari sisi yang lain.
Apabila kita mengambil teori Kant tentang kehendak, maka
kita akan bisa mengetahui konstruksi buku Le Conflit des Faculties
(KonflikAntara Fakultas-Fakultas) karena buku itu memuat aplikasi
teori Kant secara praksis. Maka apabila indera yang sehat merupakan
kelas di kalangan manusia yang paling adil menurut Descartes, maka
demikian juga halnya dengan penyusunan langkah-langkah moral
dalam pandangan Kant. Hal yang krusial adalah mengetahui
mekanisme pertumbuhannya. Maka masyarakat umum biasanyalebih memilih mengalami hidup dan mengambil manfaatnya daripada
berjalan sesuai dengan hukum moral. Dengan demikian maka
kepentingan negara yang berorientasi pada kedaulatan bangsa yang
sehat adalah membangun lembaga yang tendensinya adalah diskursus
tentang kebenaran ilmiah dan kebenaran moral-etik. Lembaga itu
adalah universitas. Di antara fakultas-fakultas yang ada di universi-
tas hanya Fakultas Filsafat yang memanifestasikan tanggung jawab
dan merealisasikan tendensi ini. fakultas Filsafat adalah fakultas yang
menegakkan kajian sastra-budaya dan ilmu pengetahuan-ilmu
pengetahuan secara bersama-sama ketika kajian itu terhimpun di
bawah bendera filsafat. Kendatipun ada pencapaian dan kemu;liaan
tendensi ini, fakultas filsafat disebut fakultas bawah, meski ia
memanfaatkan kebebasan diskursus, hanya saja ia tidak kolaborasi
dalam otoritas-kekuasaan.










