Filsafat Thales : Jejak Pemikiran Thales Dalam Peradaban Yunani

Thales ialah salah satu filsuf besar yang ada di miletus belahan kota perdagangan makmur di Yunani. Ia mengawali peradaban sejarah filsafat barat pada abad ke- 6 SM atau sebelum di pengaruhi oleh pemikiran-pemikirian socrates. Pada era tersebut, pemikiran Yunani di digdaya oleh cara berpikir mitologis yaitu segala sesuatu disangkut pautkan dengan dewa atau mitos-mitos untuk menjawab segala bentuk persoalan pada zaman itu. Seperti ketika akan turun hujan orang-orang Yunani mempercayai bahwa dewa langit sedang bersedih atas perbuatan manusia dan matahari yang bersinar terang menandakan kalau dewa matahari sedang merasa bahagia.

Fenomenologi tersebut telah menjadi dogma pada masyarakat Yunani kala itu yang membuat segala sesuatu bersifat dinamisme yaitu segala sesuatu dimulai dari kekuatan dewa kemudian meyakini bahwa apapun itu bersumber dari kekuatan para dewa. Kerancauan masyarakat Yunani dalam menyikapi fenomena, membuat Thales mengambil tindakan ekspansi untuk menggeser, melawan mitos-mitos yang dipercayai dengan kebenaran bersifat rasional yang dikonotasikan sebagai kegiatan berfilsafat. Selain sebagai filsuf pertama, Thales dikenal sebagai seorang ahli astronomi dengan bukti ia pernah mengintrepetasikan cuaca bahwa akan terjadi sebuah gerhana matahari dan itu benar adanya yang terjadi pada tahun 585 SM. Begitu juga Thales pernah mengukur  sebuah tinggi piramida dengan melakukan observasi mengukur bayangan dari piramida tersebut, oleh sebab itu ia juga di kenal sebagai ahli geometri.

Slot Iklan

Thales memperluas ajarannya di milestus bersama dengan Anaximander dan Anaximenes. Selain dikenal sebagai ahli astronomi, geometri, ia jugas dikenal sebagai pelopor filsuf pertama dalam ajarannya mengatakan tasalsul dunia berawal dari air. Kenapa? Karna unsur air menurut Thales dapat membentuk dirinya sendiri dengan cara terus mengalir tanpa ada hanbatan atau deviasi dari materi lain. Paradigma Thales terhadap unsur air didasarkan pada bahan makanan yang semuanya mengandung air dan air merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup. Air merupakan unsur yang mampu berubah bentuk seperti cair, padat, dan gas. Konsepsipnya ini diperkuat juga melalui paradigma Al-Qur’an pada surah Al-Anbiya ayat 30 yang menjelaskan : “Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air”. Adapun ajaran lain yang di berikan Thales pada murid beserta masyarakat Yunani kala itu Seperti :

Baca Juga :  Nikmatilah Seluruhnya

Ajaran Thales pada bidang psikologi menyebutkan semua materi yang ada di alam semesta baik hidup maupun mati memiliki jiwa di dalamnya. Dibuktikan dengan Batu yang digesek akan menghasilkan sebuah api, kayu yang dibakar akan menjadi abu. Makna dari teori jiwa Thales ialah segala sesuatu yang memiliki jiwa akan terus mengalir dan berubah layaknya sebuah air yang mengikuti wadahnya. Itulah hakekat jiwa menurut Thales.

Ingin mengekspresikan diri dan berpotensi mendapatkan penghasilan?
Yuk jadi penulis di rakyat filsafat. Setiap bulannya akan ada 3 orang beruntung yang akan mendapatkan Hadiah dari Rakyat Filsafat!

Ingin memiliki portal berita yang responsif, dinamis serta design bagus? atau ingin memiliki website untuk pribadi/perusahaan/organisasi dll dengan harga bersahabat dan kualitas dijamin dengan garansi? hubungi kami disini!

Saran Kami

Mungkin anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Anak Desa
Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Sop Jawa Sumatera

Tertarik Mulai Menulis di RAKYAT FILSAFAT?

Ada pertanyaan? Hubungi kami di rakyatfilsafat@gmail.com