MAPALA SANG PENAKLUK (EPS 001)

KARYA  DIWA PRASETYO

 
 
 
 
 
Kodok itu berhasil dia dapatkan, bersama seekor monyet dia bermain disungai yang berada di dalam hutan tempat ia menggantungkan hidupnya, tiba tiba terdengar suara daun yang bergemerisik dari kejauhan, ia mulai menoleh kesamping dan mencoba melihat dari kejauhan yang cukup membuat manusia biasa megerutkan dahi, tapi baginya tidak semuanya terlihat jelas baginya, semuanya terdengar jelas baginya. Orang dewasa itupun mulai memanggilnya “mapala kau dimana?, ayo kita pulang, matahari sudah mulai tenggelam” dengan cekatan mapala kecil pun langsung mendekati ibunya yang memakai baju panjang berwarna hitam yang kadang dianggap abu abu bagi mapala, dengan kaki telanjang ibunya mulai mengeluh dengan keadaan hutan yang sudah banyak kaca kaca yang dibuang dari pabrik sekitar “ayo cepat nak, bahaya kalau kamu main disini, banyak kaca”, tapi perkataan ibunya tidak didengarkan, mapala memang sering tidak mendengarkan kata ibunya apalagi ayahnya yang sering pulang larut malam, mapala pun langsung lari menuju rumah yang memiliki ketahanan yang sangat rapuh dan  diselimuti kayu kayu hutan untuk tegak dan layak dianggap rumah, andai saja kayu itu tidak ada, maka robohlah rumah itu, seperti biasa ibunya selalu ditinggalkan mapala begitu saja dan harus menysul anaknnya yang sangat ia cintai.
 
 
ayah memang sering pulang larut malam dengan muka lusuh, baju terkena bekas minyak ditempat ia kerja. sesampainya ayah dirumah ayah menemukan keluarga kecil yang paling ia cintai sedang terduduk di meja makan menunggu ia melewati pintu dan duduk bersama mereka secepatnya, mapala diam saja dan hanya menatap santapan yang akan ia makan malam ini, ayah langsung membuka pembicaraan “makan apa kita hari ini bu?” dan ibu pun menjawab sambil menghela nafasnya “seperti biasa pak” disaat itu juga ayah mengerti dan langsung memakan bersama sama santapan mereka.
 
 
paginya ibu membangunkan mapala untuk meminta izin pergi kerja diluar hutan, tapi mapala hanya mengangguk dalam tidurnya, ibu langsung bangkit dari tempat tidur mapala dan pergi bersama ayah. saat matahari mulai diatas kepala, mapala kecil bangun dan mendapati dirinya tergeletak ditanah rumahnya akibat mimpi semalam, sontak mapala memanggil ibunya yang seharusnya ada diluar menyirami tumbuhan2 mereka, dia sudah terbiasa melihat ayah tidak dirummah saat dia bangun, tapi kali ini ibu juga ikut menghilang, bagi mapala, kehilangan ibunya sesuatu yang tidak wajar, karena ibu tidak punya niatan untuk keluar hutan sekali pun, dan hari ini sangat membuat mapala bingung dan bergegas keluar rumah untuk mencari ibunya, disekitaran hutan mapala keliling meneriaki nama ibunya dengan harapan ibu menyaut teriakannya, dia mencoba bertanya dengan si monyet tapi apalah daya monyet tidak mengenali ibunya, ini sangat membuat mapala gelisah dan terus meneriaki nama ibunya tanpa henti, sampai mapala kehausan beberapa kali.
 
 
matahari mulai tenggelam dan rumah masih kosong ketika mapala berada didepan rumahnya, mapala masuk kerumah dan duduk terenung diatas meja makan,  mencoba berfikir keras mengenai kepergian ibunya, mapala hannya duduk termangu diatas tempat tidurnya dan tanpa ia sadari dia telah memejamkan matanya dan tertidur.
 
 
 

Ingin mengekspresikan diri dan berpotensi mendapatkan penghasilan?
Yuk jadi penulis di rakyat filsafat. Setiap bulannya akan ada 3 orang beruntung yang akan mendapatkan Hadiah dari Rakyat Filsafat!

Ingin memiliki portal berita yang responsif, dinamis serta design bagus? atau ingin memiliki website untuk pribadi/perusahaan/organisasi dll dengan harga bersahabat dan kualitas dijamin dengan garansi? hubungi kami disini!

Saran Kami

Mungkin anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Anak Desa
Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Sop Jawa Sumatera

Tertarik Mulai Menulis di RAKYAT FILSAFAT?

Ada pertanyaan? Hubungi kami di rakyatfilsafat@gmail.com