Sabar, Langkah Menuju Kesempurnaan

Menurut Hamka, sumber tanggungjawab adalah kesabaran. Muhammad Abduh berkata, “Sabar adalah ibu dari segala akhlak.” Akhlak adalah beradab, bersikap, berprilaku, berinteraksi, berrelationship yang benar dan tepat terhadap semua kejadian. Sabar dalam kesenangan dan kesedihan. Sabar dalam ketaatan dan derasnya kemaksiatan.

Seorang negarawan Inggris terkenal, William Pitt, bertanya pada teman-temannya, “Sifat apakah yang harus ada pada seorang Perdana Mentri?” Koleganya menjawab, “Lidah yang jelas kata-katanya.” Yang lain, “Luas ilmunya.” Yang lainnya, “Giat bekerja.” Namun Willam Pitt berkata, “Kesabaran.”

Slot Iklan

Dalam sabar ada keyakinan, melahirkan kekuatan dan kelembutan. Tak ada kesabaran tanpa keyakinan pada Allah. Tak ada kesabaran tanpa ilmu dan pemahaman yang mendalam. Peham akan karakter akhirat, dunia dan kehidupan. Sabar itu tidak lahir dari kebodohan yang pasrah, tetapi pemahaman dari seluk beluk dan liku-liku kehidupan. Tak memahami ini semua hanya melahirkan sifat pasif, tak optimis lalu putus asa.

Sabar melahirkan kekuatan. Bertanggungjawab atas semua yang diamanahkan. Semua beban menjadi ringan dan ditutaskan. Kekuatan terlihat saat menghadapi ujian. Seluruh isi kehidupan ada ujian. Ujian kesenangan dan kesulitan. Terus bergerak dalam kepenatan. Tidak tergelincir dalam kesenangan. Menginvestasikan kesenangan untuk persiapan masa depan.

Sabar membuahkan kelembutan. Lembut menghadapi amarah. Lembut menghadapi tuduhan. Lembut menghadapi kezaliman. Lembut menghadapi rintangan. Lembut saat berkuasa. Kelembutan lahir dari kekuatan bukan kelemahan. Jiwa yang kuat melahirkan kelembutan, dan ketenangan. Sedangkan jiwa yang lemah melahirkan  kesewenangan dan anarkisme sebagai bentuk ketidakberdayaan. Bagi yang sabar, semua perkara adalah kecil karena jiwanya sangat kuat.

Sabar itu langkah menuju kesempurnaan. Sabar melahirkan sikap gradual, melangkah secara terstruktur dan sistematis. Mendidik sesuai kebutuhan dan tahapannya. Perbaikan yang terus meneruskan, inovasi yang tiada henti dan tak kenal lelah mendidik diri.

Baca Juga :  ZAINAL ABIDIN DAN ERA MILLENIAL (EPS 01)

Kemajuan saat ini buah dari kesabaran. Kesabaran memperbaiki teknologi dari para pendahulunya. Kesabaran duduk di lembaga riset dan penelitian. Kesabaran meneliti prilaku dan budaya masyaraka. Sabar menghadapi kezaliman dan keburukan yang ada.

Ingin mengekspresikan diri dan berpotensi mendapatkan penghasilan?
Yuk jadi penulis di rakyat filsafat. Setiap bulannya akan ada 3 orang beruntung yang akan mendapatkan Hadiah dari Rakyat Filsafat!

Ingin memiliki portal berita yang responsif, dinamis serta design bagus? atau ingin memiliki website untuk pribadi/perusahaan/organisasi dll dengan harga bersahabat dan kualitas dijamin dengan garansi? hubungi kami disini!

Saran Kami

Mungkin anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Anak Desa
Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Sop Jawa Sumatera

Tertarik Mulai Menulis di RAKYAT FILSAFAT?

Ada pertanyaan? Hubungi kami di rakyatfilsafat@gmail.com