Spiritual Journey For Business (2)

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Rela meninggalkan bisnis demi aqidah yang dibelanya. Rela meninggalkan semua kekayaan demi mengikuti kiprah orang yang dicintainya. Rela menanggalkan atribut kemuliaan dunia demi jalan-jalan kemaslahatan umat manusia. Dunia bisa dicari kembali. Kekayaan bisa dikumpulkan kembali.

Slot Iklan

“Beruntunglah.” Itulah sabda Rasulullah saw terhadap Suhaib Ar Rumy yang memberikan seluruh harta kekayaannya kepada mereka yang menghalangi hijrahnya ke Madinah. Hijrah, berarti meninggalkan semua kekayaan dan jaringan bisnis di Mekkah. Hijrah berarti membangkrutkan dan memiskinan diri.

Bagi yang piawai dalam bisnis. Kebangkrutan bukan persoalan. Hancurnya jaringan bisnis bukan persoalan. Seperti para Sahabat Rasulullah saw, bisnisnya bangkrut bukan salah kelola, bukan penghamburan cash flow untuk berfoya-foya dan gaya hidup yang melampaui batas. Tetapi karena ingin membangun peradaban manusia di dunia.

Kisah seorang yang terjebak dalam gua, berwasilah membuka batu besar dari mulut gua dengan sarana rela memberikan bisnisnya yang besar kepada karyawannya. Karena modal awal bisnis itu dari gaji karyawannya yang tidak diambil, lalu dikelolanya. Bisnis itu bisa kembali. Seperti uang yang datang dan pergi.

Lihatlah Abdurahman bin Auf saat tiba di Madinah. Di Mekah dia pengusaha besar. Lihat Rasulullah saw di Madinah, beliau seorang investor bisnis bersama istrinya. Bagaimana setibanya di Madinah? Abdurahman bin Auf pergi ke pasar dengan menanggalkan status pengusaha besarnya. Dia mulai dari bawah, berjualan kecil-kecilan. Lihat keseharian Rasulullah saw, beliau pun rela menjahit sendiri bajunya yang robek. Inilah karakter pebisnis yang tegar, yang siap memulai dari awal kembali.

Begitu pun dengan Ali bin Abi Thalib. Setibanya di Madinah, ada kisah bahwa Ali bin Abi Thalib bekerja mengambilkan air untuk seorang keluarga Madinah. Setelah bekerja, seorang fakir yang meminta bantuannya. Ali pun memberikan seluruh hasil kerjanya.  Lalu ada seorang yang menghampirinya, yang menjual ternaknya dengan pembayaran tempo ke Ali bin Abi Thalib. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib bisa menjual binatang ternak tersebut.

Baca Juga :  HANYA MENGAIS (SAHABAT RF)

Ali memulai bisnisnya dari seorang pekerja yang mengambil air untuk seorang keluarga di Madinah. Bukankah dia Sahabat yang mulia. Sosok yang oleh Rasulullah saw dijuluki orang yang mencintai Allah dan dicintai Allah? Seperti itulah liku-liku perjalanan bisnisnya.

Ingin mengekspresikan diri dan berpotensi mendapatkan penghasilan?
Yuk jadi penulis di rakyat filsafat. Setiap bulannya akan ada 3 orang beruntung yang akan mendapatkan Hadiah dari Rakyat Filsafat!

Ingin memiliki portal berita yang responsif, dinamis serta design bagus? atau ingin memiliki website untuk pribadi/perusahaan/organisasi dll dengan harga bersahabat dan kualitas dijamin dengan garansi? hubungi kami disini!

Saran Kami

Mungkin anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Anak Desa
Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Sop Jawa Sumatera

Tertarik Mulai Menulis di RAKYAT FILSAFAT?

Ada pertanyaan? Hubungi kami di rakyatfilsafat@gmail.com