Mitos Demokrasi

Demokrasi, kini seolah bak religi. Karena jamak kaum percaya, demokrasi jalan kebenaran. Padahal kata demokrasi, tak dikenal lidah kaum nusantara. Orang dari Aceh sampai Papua, tak punya kosakata asli ‘demokrasi’. Karena kata ini murni serapan. Impor. Tapi ironi, walau bukan tradisi, seolah berlomba paling fasih. Sistem ini menjejak pasca Revolusi Perancis, 1789 di Paris, Perancis. Dari sanalah era modern state dimulai. Sejak itulah demokrasi dimulai. Karena konsepnya melanglang jauh dari Yunani kuno. Aristoteles yang punya konsepnya. Logika atau rasionya yang mengarangnya. Romawi sempat mempraktekkannya. Kaum produk rennaisance yang mengeksekusinya kemudian. Revolusi Perancis itu babakan kemenangan buah perjuangan rennaisance. Tapi sejarah kelahirannya kelam. Jutaan nyawa melayang, demi demokrasi. Dan pembantaian terjadi pada kaum agama. Demi demokrasi. Tengoklah kejadian pasti kudetanya. Karena demokrasi lahir karena revolusi berdarah. Perang aqidah di Eropa. Yang kemudian merambah dunia Islam kemudian.

 

Slot Iklan

          Lihatlah kejadian 24 Agustus 1572, ini hari peringatan pembantaian Santo Bartolomeus di Paris. Kala itu masih Monarkhi. Charles IV menjadi raja. Dia masih belia. Ibunya, Chaterine de Medicie mengendalikan dari belakang. Tahun itu, Eropa dilanda prahara. Kisah perang Katolik-Protestan membahana. Ini bermula soal aqidah Nasrani. Karena terserang virus filsafat yang melanda agama itu. Pasca filsafat melewati dunia Islam, abad 13, kemudian dibawa ke belantara Nasrani dari Aquinas. Alhasil berabad-abad kemudian memunculkan gerakan perlawanan. Aqidah Nasrani digoyang. Otoritas Gereja digugat. Karena Gereja kala itu dianggap mewakili Tuhan. Raja dan Gereja bak umara dan ulama. Perpaduan wakil Tuhan di dunia. ‘Vox Rei Vox Dei’ (Suara Gereja Suara Tuhan) jadi adagium satu-satunya.

 

          Tahun 1517, muncul Marthin Luther dengan 97 tesisnya. Dia menggugat ‘kebenaran’ otoritas Gereja. Salah satunya mengkritik praktek indulgensi dalam Gereja. Tesis Luther itu membahana. Banyak pengikutnya. Ditambah kemudian muncul John Calvin. Inilah yang melahirkan Protestan. Karena kaum ulama Nasrani berkumpul. Seiring mencuatnya pengikut Luther dan Calvin dimana. Tahun 1521, Charles V, Kaisar Imperium Romanum Socrum (IRS) memimpin pertemuan para Raja di Eropa. Karena kerajaan inilah pengawal Gereja. Mereka rapat dan menghasilkan ‘editc of worm’. Isinya pengikut Luther, Calvinis dan lainnnya sebagai bid’ah. Dan pelaku bid’ah layak dihukum mati karena telah sesat. Munculnya ‘Edict of Worm’ itulah menimbulkan protes. Bangsawan yang pengikut Luther, mengirim protes. Tahun 1529, protes itu dikirimnya. Itulah dikenal dengan ‘Diet of Speyer’. Sejak itulah dikenal Protestan. Nasrani pun resmi terbelah. Tapi Gereja dan Raja berupaya memberantas bid’ah. Perang melanda dimana-mana. Di kerajaan Perancis, pengikut Protestan itulah yang dikenal Huguenot.

Baca Juga :  Civitas Dei

 

          Kala itu Perancis masih kerajaan. Christoper Marlowe, Seorang dermawan mengkisahkan tentang pembantaian di Paris itu. Kala hari peringatan Santo Bartolomeus itu. Dramanya, Masacre de Paris, membelalakkan mata semua orang. Betapa drama kejadian memang nyata. Raja Charles IV, mengundang semua orang ke Istana Kerajaan. Chaterine de Medicie yang asli merancang. Raja yang belia, hanya manut saja. Raja menjadi simbolis, karena dikontrol ibunya. Chaterine pengikut Katolik. Sekitar 3000 orang lebih Huguenot diundang ke istana. Malamnya, tatkala hari peringatan, mereka semua diracun. Mati. Itulah drama pembantaian terbesar di depan istana Raja. Huguenot mati diracun. Chaterine beralasan mereka pengikut bid’ah. Salah seorang yang lolos, Dupllesis Mornay, menyusun artikel panjang ‘Vindiciae Contra Tyrannos’. Perlawanan pada tirani Raja. Artikel itu menjadi bentuk perlawanan pada Raja Monarkhi.

 

          Abad pertengahan pun makin kelam di Eropa. Artikel Mornay merambah kemana-mana. Menjadi semangat perlawanan pada kesewenangan Raja dan kaum Gereja. Karena telah berubah menjadi tirani.

 

          Berabad kemudian, perang Katolik dan Protestan makin membahana. Krisis kepercayaan pada Gereja makin membahana. Puncaknya berlangsung kala Revolusi Perancis, 1789. Sekitar 3 abad lebih setelah pembantaian Huguenot di Paris. Revolusi Perancis diilhami dari Revolusi Inggris, 1668 sebelumnya. Itulah kemenangan kaum Protestan pertama di istana. Tatkala para baron, pengikut Protestan, berhasil mengganti Raja. Mereka tak mengganti sistem. Raja William of Orange, sebelumnya Raja di Belanda, dikawinkan dengan Rayu Mary I, keturunan ‘bourbon’. Disitulah secara resmi Inggris diperintah Protestan. Buah kesepakatan para baron, kaum kaya. Tapi dibalik itu, para baron memberi pinjaman uang pada Raja William. Dengan konsesi, para baron itu berhak mengatur keuangan Inggris. Mereka mendirikan Bank of England, bank sentral Inggris, pengendali satu-satunya uang. Disitulah mencuatnya bankir dalam negara. Raja William pun berutang.

 

Slot Iklan

          Revolusi Perancis terilhami. Kaum Protestan memberontak pada Raja Louis XVI. Karena kerajaan mulai melemah. Utang merebak, pajak meninggi. Inilah kesempatan. Puncaknya berlangsung 1789. Revolusi menyala-nyala. Robbispierre memimpin revolusi. Dia dari kaum jacobin. Kaum intelektualnya. Revolusioner terdiri dari dua kubu: borjuis dan jacobin. Borjuis inilah kaum kaya. Puncaknya, pengikut Gereja dan Raja dibantai. Raja Louis XVI kemudian dihukum gantung di depan penjara Bastille. Jacobin mengambil alih kekuasaan di Perancis. Disitulah mereka teriak: demokrasi!

Baca Juga :  SAINS TIDAK BERPIKIR ( Irawan santoso Shiddiq, S.H. )

 

          Hukum pun diganti. Tak ada lagi mengikuti kitab suci. Tapi konstitusi. Kesepakatan bersama. Konsep Rosseou dieksekusi. Karena Robbespierre mengagumi Rosseou. Itulah kitab sucinya.

 

          Tak ada lagi ‘Vox Rei Vox Dei’. Diganti menjadi ‘Vox populi vox Dei”. Kepercayaan pada Tuhan diganti. Karena kedaulatan berasal dari manusia. Bukan Tuhan. Tak ada lagi ‘Vive le Roi’ (Hiduplah Raja). Tapi ‘Vive le nation’ (Hiduplah Negara). Muncullah kaum pengikut ‘nation’. Konsep state pun bermula. Mengganti otoritas Nasrani sebelumnya. Kebenaran menjadi tunggal. Yang tak muncul dari nation, bukan dianggap kebenaran. Itulah ciri khas kaum positivistik. Munculnya hukum positif, hukum yang berasal dari nation semata. “Hukum yang bukan berasal dari kontrak sosial, bukan dianggap hukum,” penjelasan Ian Dallas dalam kitabnya “The Entire City”. Itulah buah demokrasi.

 

          Drama demokrasi tak berhenti. Karena demokrasi menjadi religi. Semua orang wajib percaya dan patuh pada demokrasi. Shaykh Abdalqadir as sufi, dalam ‘Technique de banque” menceritakan dramanya. Tanggal 18 November 1793, 90 pastur yang menolak bersumpah setia pada konstitusi sipil, di bawa ke sebuah tongkang bernama La Glorie, lalu di sorong ke sungai, disegel palkanya, dan di tengah malam buta para penjaga menenggalamkannya.

 

          Pada 20 Desember 1793, 58 Pastur dari Angers menemui nasib yang sama. 14 Desember, 150 warga sipil. Pada 22 Desember sebanyak 350. Tanggal 23 Desember  sebanyak 800 orang dibunuh. Menjelang Natal, 300 orang dibantai. Distrik demi distrik di Perancis mulai menerapkan pola yang sama. Ini yang disebut baptisme patriotis. Total ada sekitar 12 ribu orang dibantai demi alasan “negara”. La Vendee berubah menjadi kuburan nasional. Slogan “liberte, egalite, fraternite” menjadi semboyan kaum republiken. Itulah alasan berdirinya negara. Liberte adalah kebebasan. Tapi bebas dari hukum agama Nasrani. Egalite berarti keadilan. Keadilan yang tak lagi merujuk pada kitab suci. Fraternite, persaudaraan. Persaudaraan antar sesama kaum nasionalis, tapi membunuhi para agamawan dan bangsawan Perancis. Inilah makna slogan yang diagungkan itu.

 

          Dr. John Coleman, pengamat politik asal Amerika Serikat menyimpulkan, revolusi Perancis memiliki king maker. “Revolusi itu dijalankan dari Inggris,” tulisnya. Ada sosok nine unknown men (sembilan pria tak dikenal) yang menjalankan revolusi Perancis. Coleman menyimpulkan ada benang merah yang ditarik dalam revolusi Perancis, revolusi Bolshevik dan lainnya. Benang merah itu ialah: kebencian yang sama pada agama Nasrani.

 

Baca Juga :  Hakikat Kerahasiaan Takdir

          Aura Revolusi Perancis lalu merambah eropa. Monarkhi banyak dihabisi. Apalagi Gereja, sudah pasti tak lagi diminati. Inilah buah yang berlangsung masa rennaisance di Eropa. Masa hari peringatan Santo Bartolomeous, Huguenot dibantai di depan istana Raja. Revolusi Perancis, pengikut Nasrani dibantai atas nama nation dan demokrasi. Itulah sejarah lahirnya demokrasi.

 

          Belum selesai. Demokrasi merambah ke belantara Utsmani di Istanbul. Tahun 1840, itulah puncaknya. Tanzzimat berlangsung di Topkapi, Istanbul. Itulah Sultan Abdul Aziz mengeluarkan qanun. Utsmani berubah. Utsmani mengikuti Republik Perancis. Syariat Islam diubah. Hukum berubah. Tanzimat itulah titik dimulainya nation dan demokrasi di Utsmani. Tapi kaum ulama menentang. Mursyid-nya Sultan Abdul Aziz tak menyetujui qanun itu. Karena qanun itu dianggap bertentangan dengan syariat. Karena titah (ferman) Sultan derajatnya dibawah syariat. Tak boleh menyalahi syariat. Tapi apa lacur? Sultan membubarkan Shaykhul Islam. Dia tak lagi mengikuti instruksi Shaykh-nya. Para pengikut sufi diadili, dikejar-kejar dan tassawuf dilarang di Utsmaniyah. Bak kejadian di La Vendee, Perancis. Kaum ulama diburu dan dikejar. Hanya sejarah tak mencatatnya terang benderang. Alhasil Utsmani makin terjerambab.  Para bankir yang bebas mengendalikan Utsmani kemudian. Sebelum sempat dipulihkan Sultan Abdul Hamid II. Klimaksnya 1924, Attaturk membubarkan kesultanan. Dia mendirikan republik Turki, dan murni mengikut DEMOKRASI. Disitulah demokrasi resmi dijalankan Turki. Utsmani pun hilang ditelan bumi. Tiada lagi syariat Islam.

 

          Kini, demokrasi dipuja. Bak religi. Padahal demokrasi membunuh Nasrani di Perancis dan membubarkan Islam di Utsmaniyah dan dunia. Termasuk di nusantara. Kini, cara demokrasi justru diyakini memenangkan agamanya. Padahal itulah sang pembunuh agama. Sungguh Ironi.

 

          Yang sumringah tentu para bankir. Mereka menjaga agar mitos demokrasi tetap terjaga. Tetap menjadi religi. Agar pengendali nation tetap dilakukan. Bankir itulah pemenang sesungguhnya. Siapapun pemenang demokrasi, merekalah tetap pengendalinya. Karena justru ini bukanlah demokrasi. Tapi sudah okhlokrasi. Sebuah sistem dikendalikan kaum perusak.

 

          Para bankir itu. Tapi jamak masih percaya, ini masih demokrasi. Bankir pun tertawa-tawa. Karena selepas pemilu, utang nation tetap harus dibayar. Itu bukti mereka pengendali ‘demokrasi’ atas nama nation dan konstitusi.

 

          Kedaulatan rakyat itulah mudah disusupi kaum superior. Bankir tadi. Justru kedaulatan Tuhan itu mutlak. Inilah fitrah. Karena tatkala manusia dianggap penyebab utama, aktor utama, disitulah Tuhan dieliminasi. Itulah yang menomorduakan Tuhan.

 

Musyrik.

 

Ingin mengekspresikan diri dan berpotensi mendapatkan penghasilan?
Yuk jadi penulis di rakyat filsafat. Setiap bulannya akan ada 3 orang beruntung yang akan mendapatkan Hadiah dari Rakyat Filsafat!

Ingin memiliki portal berita yang responsif, dinamis serta design bagus? atau ingin memiliki website untuk pribadi/perusahaan/organisasi dll dengan harga bersahabat dan kualitas dijamin dengan garansi? hubungi kami disini!

Saran Kami

Mungkin anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Anak Desa
Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Sop Jawa Sumatera

Tertarik Mulai Menulis di RAKYAT FILSAFAT?

Ada pertanyaan? Hubungi kami di rakyatfilsafat@gmail.com