Mati, Imajinasi yang malang dikegelapan

Tepat pukul 12 malam waktu itu aku terbangun dari tidur nyenyakku. Tidak ada sedikitpun gangguan, nyamuk, lalat atau serangga lainnya pun tak berani mengganggu. Dikesunyian malam tiba-tiba dering telepon berbunyi.

“Halo, bisa gak jam 2 nanti ke tempat biasa?” tanya dia sambil kurasa-rasa suara tangis disela penghujung telepon.

Slot Iklan

Dia adalah perempuan yang kukenal pintar dan cerdas, sebut saja namanya melati, tapi entahlah, akupun tak tau mengapa belakangan ini dia selalu banyak diam dan seperti tidak bersemangat menjalani hidup.

Sampai dilokasi aku benar-benar terkejut, bagaimana tidak, sebotol minuman beralkohol dan sebungkus rokok telah dihidangkan didepan meja.

“Maksudmu mengajakku kemari apa? kau menghinaku dengan sebotol miras?” bentakku padanya sembari menggenggam tangan yang sebenarnya sedang mencari pelampiasan.

Cetaaarrrrrrr, gelas ditangannya yang penuh isinya itu dilemparnya dengan penuh amarah dan pecah setelah menghantam tembok. Tentu saja sisa-sisa pengunjung malam disitu menoleh dan bertanya pada kami. “Ada apa?” tanya mereka.

Aku yang merasa bersalah karena telah membentaknya langsung duduk disebelah nya sembari mengusap pipinya yang amat deras air mata mengalirinya.

“Ada apa?” tanyaku yang sederhana itu ternyata membuat iya semakin menangis menjadi-jadi.

“Jika Tuhan tidak menginginkan aku hidup, kenapa dia tidak cabut saja nyawaku sejak lahir? mengapa penyiksaan-penyiksaan batin seperti ini seolah tak pernah berhenti singgah padaku?” belum sempat kujawab, dia menambahi “Aku takut, ketika bunga tak lagi mekar, kumbang-kumbang lahir tanpa kasih sayang yang menjadi-jadi” ucapnya sembari meminum alkohol itu.

terdiam sesaat aku menimpahi, “Kau adalah perempuan hebat yang pernah aku kenal, imajinasimu selalu berhasil menyelamatkan orang-orang yang sudah putus asa akan hidupnya, mengapa bisa kau sendiri tidak menjadi obat untuk rasa sakit yang sejak lama kau idap itu?”

Baca Juga :  Memutar Rezeki

Ditengah percakapan yang hangat aku sempat berdebat dengan kepalaku “Jika saja aku tahu bahwa ia tersiksa dengan kehidupannya, seharusnya masih ada celah untuk berimajinasi akan penghujung yang bahagia, kan seharusnya ……….”

“Kau bodoh sekali, bahkan untuk berimajinasi saja aku takut” celetuk dia ditengah aku yang berdebat dengan kepalaku sendiri.

Slot Iklan

Heran bukan main, bukan karena ia seolah tahu isi pikiranku tetapi karena pernyataan pahit itu.

Aku seperti hantu, terus melayang tak tau arah. Aku kosong tanpa penyekat kejatuhan. Kisah kelam terus bergentayang dikepala. Aku rindu dan menginginkan rumah yang sama sepertimu, tapi sial, bahkan setelah mabuk begini pun aku masih tak berani berimajinasi. hahahah ” ucapnya padaku sambil tertawa lebar.

Coba kau lihat didepanmu itu, anak yang umurnya sekitar 3 tahun tertawa bahagia dengan ayahnya yang sedang bekerja sampai jam segini. Aku tidak iri padanya, aku hanya takut anak itu merasakan seperti yang aku rasakan. Dulu memang aku selalu tampak hebat ketika menulis, kini aku takut, bahkan hanya untuk berimajinasi membayangkan anak-anak yang ditelantarkan rumah. “curhatnya sembari menangis, lagi.

Aku sebenarnya punya cara untuk bahagia, tapi aku tak tau, apakah kalian bisa menerimanya “timpal dia sambil tersenyum lebar.

“Maksudmu?” tanyaku heran.

Begini, kau duduk disini, aku akan kejalan raya itu, perhatikan baik-baik! “perintah dia padaku

Ia langsung bangkit dari kursi dan berlari kecil menuju jalan raya sembari tersenyum.

“Bahkan disituasi seperti ini, ia masih ada saja jalan keluarnya, benar-benar perempuan hebat, betapa bahagianya………..” braaaaaaaaaaakkk, belum kuselesaikan imajinasiku terdengar suara tabrakan yang sangat keras.

Sontak kami dan sisa malam keluar melihat, betapa hancur dan terkoyaknya hati, kulihat penuh darah dan memar wajah melati tumbang dijalan. Truk beroda 12 yang menghantam badannya menjadi jalan terakhir pilihannya, lebih geram dan sakitnya hati, supir yang mengendarai truk itu adalah ayahnya yang selama ini membunuh imajinasi-imajinasinya. Ternyata ia sudah tahu, jam berapa dan dimana ayahnya akan melintas.

Ingin mengekspresikan diri dan berpotensi mendapatkan penghasilan?
Yuk jadi penulis di rakyat filsafat. Setiap bulannya akan ada 3 orang beruntung yang akan mendapatkan Hadiah dari Rakyat Filsafat!

Ingin memiliki portal berita yang responsif, dinamis serta design bagus? atau ingin memiliki website untuk pribadi/perusahaan/organisasi dll dengan harga bersahabat dan kualitas dijamin dengan garansi? hubungi kami disini!

Saran Kami

Mungkin anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pasang Iklan

Pasang Iklan

Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Anak Desa
Klik Gambar Untuk Mengunjungi Warung Sop Jawa Sumatera

Tertarik Mulai Menulis di RAKYAT FILSAFAT?

Ada pertanyaan? Hubungi kami di rakyatfilsafat@gmail.com